Rabu, 24 Maret 2010

LEUKEMIA (KANKER DARAH)

Leukemia merupakan jenis kanker yang dimulai di sumsum tulang, yang merupakan jaringan lunak di tulang yang bertanggung jawab untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan platelets. Beberapa sel dapat mengubah menjadi leukemia sel, yang selanjutnya membagi menjadi lebih sehat sel. Sebagai kanker tulang sumsum menciptakan lebih banyak sel-sel leukemia, sel-sel sehat mendorong mereka keluar dan menggantikan mereka, sehingga sulit untuk darah berfungsi dengan baik, dan yang mengarah ke masalah medis serius.



Terdapat empat jenis utama leukemia menjadi dua kategori tergantung bagaimana leukemia berlangsung dan perbedaan antara normal dan abnormal sel.

Leukemia Akut
Akut Myelogenous leukemia (AML) merupakan kanker yang menyebar dengan cepat di dalam darah dan sumsum tulang. Karena yang asli leukemic sel, sumsum tulang yang memproduksi berbagai blasts, atau belum, nonfunctional sel. Di bawah keadaan sehat, sel-sel ini akan berkembang menjadi sel-sel darah putih yang memerangi infeksi, sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh, atau platelets untuk membantu clotting. Namun, pada orang yang AML, blasts ini tidak mengalami perkembangan normal dan menghambat produksi sel-sel baru.

Akut Lymphocytic leukemia (ALL) adalah kanker yang mirip dengan leukemia akut myelogenous kecuali, daripada mempengaruhi semua jenis sel, dimulai di lymphocytes. Lymphocytes adalah sel darah putih yang mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Sumsum tulang yang membuat sel belum banyak dikenal sebagai blasts, yang pada orang yang sehat akan menjadi lymphocytes. Dalam orang yang SEMUA Namun, ini tidak blasts mengembangkan biasanya menjadi sel darah putih. Sel-sel yang abnormal kemudian mengambil tempat di benak biasanya dikhususkan untuk sehat sel, dan menghambat penciptaan sel-sel baru. Proses ini dapat mengakibatkan pengurangan sel darah merah dan perkembangan anemia, serta pengurangan sel darah putih yang mengarah ke sistem kekebalan lemah.

Leukemia Kronis
Kronis Lymphocytic leukemia (CLL), seperti jenis leukemia, berkembang di dalam darah dan sumsum tulang. Leukemia kronis berlangsung pada lambat menilai dari akut leukemia, namun tetap mempengaruhi lymphocytes, yang biasanya memerangi infeksi. CLL membuat terlalu banyak nonfunctional lymphocytes yang mengambil tempat sel sehat. Sebagai sel kanker terus bertambah banyak, mereka menghambat efektivitas fungsional lymphocytes, yang mengarah ke sistem kekebalan lemah. Anemia penyembuhan lambat dan juga dapat terjadi dalam CLL pasien sebagai sel-sel darah merah dan platelets akan diganti dengan yang abnormal lymphocytes.

Kronis Myeloid leukemia (CML) adalah lambat tumbuh-jenis leukemia yang membuat sumsum hampir-fungsional-sel darah merah, putih, dan di disproporsional platelets-angka. Banyak sel darah putih dan platelets yang dibuat, sementara jumlah sel darah merah yang dibentuk. Aliran darah dimulai untuk memperlambat sebagai jumlah sel darah putih meningkat dan pasien mungkin mengalami anemia parah karena penurunan dalam sel-sel darah merah.

Gejala-gejala untuk setiap jenis leukemia bervariasi, namun umum termasuk gejala demam dan panas dingin, kelelahan, sering infeksi, kehilangan nafsu makan dan berat, bengkak Kelenjar getah bening, mudah bruising atau pendarahan, sesak nafas, sakit tulang, malam sweats, dan perdarahan masuk ke kulit.

Hitung darah lengkap, atau CBC, adalah tes darah yang mengukur hitungan sel darah merah, sel darah putih dihitung, tingkat hemoglobin, dan platelet count, antara lain. Hal ini umumnya digunakan untuk mendiagnosa leukemia. Metode lain yang digunakan untuk diagnosing leukemia termasuk sumsum biopsies, cairan tulang belakang tes, ujian fisik, kromosom screenings, dan sinar-X dada.

Pengobatan untuk leukemia mungkin termasuk kemoterapi, radiasi, terapi biologi, terapi bertarget seperti kinase inhibitors, dan sumsum tulang dan sel batang-transplantations.

KESEHATAN JIWA

Tekanan hidup yang menghimpit dan kegelapan masa depan menyebabkan banyak masyarakat menderita sakit jiwa mulai dari ringan sampai berat. Hal yang paling memilukan hati tingginya angka bunuh diri disertai pembunuhan terhadap anak yang mereka kasihi. Kasus yang sudah semakin prevalen ini perlu menjadi perhatian kita, terutama Pemerintah dan Departemen terkait, untuk ditangani secara seksama agar tidak menjadi semakin memburuk.

Ada sejumlah kasus bunuh diri yang dapat kita ketahui dari mas media. Pada tanggal 22 November 2007 kita dikejutkan berita Reportase Pagi TRANS T.V. tentang jatuhnya seorang mahasiswa, Yhosua Putera Purba, dari lantai 12 gedung Universitas Atmajaya. Setahun yang lalu kejadian serupa terjadi dua orang bunuh diri dengan melompat dari elevator pada suatu mal di Surabaya. Peristiwa bunuh diri dengan modus menjatuhkan diri dari gedung tinggi akan semakin menjadi pilihan orang yang menderita kelainanan jiwa atau stres.

Tragedi yang paling memilukan adalah peristiwa beruntun bunuh diri dan membunuh anak balita yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Pertama, nasib tragis menimpa keluarga Jiyono (32), warga Dukuh Jantir, Boyolali, Jawa Tengah. Istri Jiyono, Mujinem (30), dan anak keduanya, Astiwi (2), ditemukan tewas gantung diri, Rabu (20/7/05) siang. Sebelum gantung diri, Ny Mujinem diduga terlebih dulu membunuh anaknya dengan menjerat memakai tambang plastik. Kedua, Ropingah, 30 tahun, warga Dusun Ngelo, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, nekad bunuh diri dengan cara membakar diri bersama dua anaknya (04 Mei 2007). Ropingah tewas bersama Hasbi Novid, anaknya yang baru berumum 1 tahun. Adapun, anak satunya lagi, Ibnu Rizal, 8 tahun, selamat dengan luka bakar serius.(Tempointeraktif.com) Ketiga, seorang ibu di Bekasi membunuh anaknya, Mutiara Yusuf, 2 tahun; Aldi Rasyid, 4 tahun, dengan menenggelamkan kedalam bak kamar mandi. Kejadian tragis ini terjadi pada tanggal 14 Maret 2008. Terakhir, modus yang sama ditiru oleh seorang ibu di Pekalongan 2 anak balita, Sabila Putri Kaera dan Fadli Muhammad Niizam, meninggal ditenggelamkan di bak mandi pada tanggal 22 Maret 2008. (Kompas, 27 maret 2008)

Data World Health Organization menyampaikan, sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir. Kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi penyebab tingginya jumlah orang yang mengkhiri hidup. A Prayitno mengatakan, faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup. Menurut Prayitno, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Jumlah kematian itu belum termasuk kematian akibat overdosis obat terlarang yang mencapai 50 ribu orang setiap tahun. Prayitno mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. (www.vhrmedia.com)

Data Departemen Kesehatan menyebutkan, beberapa daerah memiliki tingkat bunuh diri tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari - September 2005 dan 121 kasus selama tahun 2004. Pada 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun. Kasus bunuh diri di Jakarta sepanjang 1995-2004 mencapai 5,8% per 100 ribu penduduk, kebanyakan lelaki. Dari 1.119 orang bunuh diri di ibu kota negara, 41% dengan cara gantung diri, 23% menenggak racun. Selain itu, 256 orang menemui ajal akibat overdosis obat. Tingginya angka bunuh diri di Indonesia mendekati negara pemegang rekor dunia seperti Jepang mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun dan China yang mencapai 250 ribu orang per tahun. (www.vhrmedia.com)

Semua tragedi diatas hanya merupakan ujung gunung es dari permasalahan kesehatan jiwa yang dihadapi oleh seluruh penduduk Indonesia. Krisis ekonomi yang belum mereda telah menimbulkan dampak terjadinya pengangguran dan persaingan yang makin ketat dalam berbagai bidang, baik dalam pekerjaan maupun sekolah. Masyarakat dituntut untuk lebih cepat beradaptasi, namun tidak semua individu dalam masyarakat mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Pada kota-kota besar faktor pemicu penyakit jiwa ditambah lagi dengan carut marutnya lalu lintas dan kerawanan sosial yang tinggi membuat stres dan meningkatnya perilaku agresif penduduk kota. Khusus untuk masyrakat Papua perubabahan socio-politik dan factor ekonomi akan merupakan stressor pemicu kelainan jiwa pada penduduk.

Kondisi demikian sangat rentan terhadap terjadinya stress, anxietas, konflik, depresi, ketergantungan terhadap NAPZA, perilaku seksual menyimpang, serta masalah-masalah psikososial lainnya. Lebih lanjut, Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa memperkirakan 1 dari 4 penduduk Indonesia mengidap penyakit jiwa. Artinya, diperkirakan sekitar 25% penduduk Inonesia diperkirakan mengidap penyakit jiwa dari tingkat paling ringan sampai berat.

2. Apa yang telah dilakukan Pemerintah?

Masalahnya, apakah yang telah dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan dan Kementerian Sosial untuk mencegah dan mengurangi masalah kesehatan jiwa masyarakat? Apakah ada program prevensi kesehatan jiwa masyarakat yang dilaksanakan pemerintah? Bagaimana peran Dinas-Dinas terkait Kabuapten/Kota untuk mencegah dan mengurangi masalah kesehatan jiwa masyarakat? Bagaimana peran sosial (keluarga, kerabat dan masyarakat) untuk bersama-sama memerangi penyakit jiwa yang semakin mengkhawatirkan ini?

3. Program Kesehatan Jiwa Berbasis keluarga

Kenapa selama ini kita tidak dapat bertindak untuk mencegah terjadi peristiwa bunuh diri di lingkungan kita? Banyak faktor tentunya yang mempengaruhi ini; ahli sosiologi mengatakan lemahnya daya kohesi sosial dalam masyarakat dan banyak faktor lainnya. Sebagai pengamat kesehatan masyarakat; salah satu sebab adalah tidak cukup pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa itu sendiri. Ditambah lagi, program kesehatan jiwa masyarakat hampir tidak terdengar kiprahnya di masyarakat.

Penderita penyakit jiwa masih terlalu jauh dari jangkauan program kesehatan masyarakat. Seharusnya, program kesehatan masyarakat harus fokus kepada keluarga. Artinya, pemberdayaan masyarakat harus berkerja di tingkat keluarga. Setiap anggota keluarga harus termotivasi untuk mengambil peran dalam mempromosikan perilaku hidup sehat dan dapat mendeteksi, mencegah dan mencari akses pelayanan kesehatan jiwa yang dibutuhkan.

Puskesmas seharusnya berkerja dengan sistem informasi berbasis keluarga sehingga dapat diketahui kondisi kesehatan setiap keluarga. Dengan demikian, setiap Puskesmas dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan berdasarkan masalah kesehatan keluarga pada daerah kerjanya.

Personel Puskesmas harus mempunyai kompetensi untuk melakukan penyuluhan, promosi dan pengobatan penyakit jiwa yang tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit. Sebagian besar masalah kesehatan jiwa seharusnya dapat ditangani di tingkat Puskesmas. Perlunya pelatihan personil Puskesmas untuk menjalankan Program Kesehatan Jiwa Keluarga sudah seharusnya menjadi perioritas Departemen Kesehatan dan Kementerian Sosial, Republik Indonesia. Apakah pejabat kita memikirkan masalah ini? Wallahu Alam…

DBD

Demam Berdarah dan Kesehatan Masyarakat

Oleh: AsianBrain.com Content Team

Demam berdarah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu perhatian serius. Pada januari 2010, Dinkes Kota Bengkulu mencatat 44 kasus DBD dan dua orang diantaranya meninggal. Penyakit ini ditandai dengan panas mendadak yang dapat mencapai 38 - 40oC, selain itu juga ditandai dengan adanya bintik-bintik merah akibat pecahnya pembuluh darah. Jika dilakukan pemeriksaan darah, didapatkan penurunan trombosit yang cukup signifikan.

Demam berdarah disebabkan oleh virus dangue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypty. Dengan demikian, demam berdarah dapat dicegah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Selain 3M, salah satu program kesehatan masyarakat yang digalakkan saat ini adalah pemantauan jentik berkala oleh jumantik. Jumantik adalah orang yang ditunjuk dan diberi tugas untuk memantau jentik nyamuk dari rumah ke rumah.

Jumantik tidak hanya terdiri dari petugas pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) tetapi juga dari masyarakat sekitar dan anak anak sekolah. Memantau jentik tidaklah terlalu sulit jika kita sudah mengenal ciri ciri jentik nyamuk Aedes Aegypti. Jentik nyamuk ini memiliki ciri yang khas yaitu selalu bergerak aktif di dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong. Bentuk kepompong adalah seperti koma, gerakannya lamban dan sering berada dipermukaan air. Setelah 1 - 2 hari akan menjadi nyamuk baru

Pemeriksaan jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut. Pertama, periksalah tempat penampungan air (bak mandi, wc, drum, vas, ban bekas) yang ada di dalam rumah atau disekitar rumah. Jika tidak ditemukan jentik di permukaan, tunggu selama kurang lebih satu menit karena jika bernafas jentik akan muncul ke permukaan untuk bernafas. Apabila gelap dapat digunakan bantuan senter untuk melihat kedalam tempat penampungan air. Cocokkan ciri jentik dengan uraian di atas. Jika dapat dipastikan jentik tersebut adalah jentik Aedes Aegypti, maka petugas kesehatan masyarakat atau jumantik akan melakukan abatisasi dan pencatatan.

Abatisasi yaitu memberikan abate pada tempat penampungan air yang ditemukan jentik, untuk membunuh jentik yang ada. Tentu saja ini dilakukan dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat, agar terhindar dari bibit penyebab DBD. Sedangkan Pencatatan yang dilakukan meliputi tanggal pemeriksaan dan kelurahan tempat dilakukan survei pemantauan jentik, nama keluarga dan alamat (lengkap dengan RT/ RW), jumlah semua penampungan air (container) yang diperiksa, serta jumlah container yang di temukan jentik. Data tersebut akan digunakan untuk menghitung angka bebas jentik.

Apabila angka bebas jentik suatu daerah tertentu rendah, maka kemungkinan penduduk daerah tersebut untuk terkena DBD adalah lebih besar dibanding daerah lain yang angka bebas jentiknya lebih besar. Hasil pencatatan kemudian dilaporkan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sekitar dan kemudian dilanjutkan ke Dinas Kesehatan. Jadi mudah bukan melakukan pemberantasan sarang nyamuk? Jika anak sekolah saja bisa, apalagi kita. Mari ramai-ramai kita cegah demam berdarah dengan berperan aktif menjadi jumantik.